Quote hari ini, “kita tidak akan dapat memahami siapa diri kita jika kita tidak mengetahui dari mana asal usul kita”.

Sejarah manusia muncul dari awal perkembangan manusia. Ia berputar bersamaan dengan perputaran hidup manusia. Sejarah merupakan cikal bakal kehidupan saat ini. Memahami kehidupan saat ini tanpa memahami sejarah ibarat orang buta memahami sebuah patung. Ia dapat merasakan setiap lekuk postur dan kontur patung, tetapi ia tidak akan dapat memahami alasan dari setiap lekuk kontur patung tersebut. Memahami sejarah menjadi penting karena dengannya kita dapat mengetahui alasan sebuah kejadian saat ini, bahkan mungkin saat yang akan datang. 

Saya jadi teringat ungkapan Edward Said, “Berpaling ke masa lalu merupakan strategi paling umum untuk menafsirkan masa kini”. Juga ungkapan seorang sastrawan Inggri, Elliot “Cara kita merumuskan atau melukiskan masa lalu membentuk pemahaman dan pandangan-pandangan kita masa kini. Pada tulisan kali ini, kita akan mencoba sedkit eksplorasi sejarah tanah Kaili.

Kaili merupakan suku terbesar yang menghuni daratan Sulawesi Tengah. Kaili atau To Kaili merupakan suku asli Sulawesi Tengah, dan daratan palu atau sulawesi tengah biasa disebut tanah Kaili. Berbeda dengan suku-suku lain di Indonesia, Suku Kaili memliki banyak pecahan sub etnik yang memiliki bahasa yang agak sedikit berbeda satu sama lainnya. Sub etnis tersebut diantaranya: Kaili Rai, Kaili Ledo, Kaili Da’a, Kaili Tara, Kaili Ta’a, Kaili Unde, Kaili Ija, Kaili Inde, Kaili Doi, Kaili Edo, Kaili moma, Kaili Edo, dan kaili Ende. Konon masih ada lagi sub etnis lainnya. Tapi kami belum melakukan pengkajian lebih jauh.

Perkembangan masyarakat kaili yang muncul dalam bentuk sub etnis Kaili seperti diatas dipengaruhi oleh sistem pemerintahan yang ada sebelumnya. Masyarakat Kaili pada periode awal hidup secara berkelompok-kelompok. Mereka menempati daerah-daerah yang terpisah antara satu dengan subetnis kaili lainnya. Belum ada studi lebih lanjut tentang hal ini, namun banyaknya muncul kepala suku (yang disebut Magau) memberikan bukti kuat bahwa mereka hidup dalam beberapa kelompok yang terpisah. Penulis menggunakan istilah Magau sebagai kepala suku dan bukan raja karena belum menemukan bukti otentik keberadaan sebuah kerajaan di Tanah Kaili. Alasan kedua, jika memang ada kerajaan, tentunya hanya satu subetnis kaili saja yang dipertahankan atau dianut dalam kerajaan tersebut, karena subetnis lainnya sudah dikuasai. Wallahu A’lam

Apa yang menarik disini, secara genealogy, suku Kaili berasal dari satu sumber. Mereka berasal dari satu ibu.

(bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *