Bicara tentang pendidikan di sekitar kita memang mengasyikkan. Banyak variabel bebas yang berkait erat dengan pendidikan. Sebut saja sebagai faktor-faktor yang mempengaruhi proses pendidikan. Banyak hal yang dapat dimasukkan sebgai faktor-faktor yang mempengaruhi pendidikan, seperti: lingkungan keluarga, masyarakat, ekonomi, budaya, kecanggihan teknologi, agama dan semisal lainnya. Juga faktor motivasi, faktor sekolah, tenaga pendidik dan kependidikan, metode dan gaya mengajar,evaluasi, dan semisalnya. Jika mau dikelompokkan, faktor-faktor tersebut terkumpul dalam dua kategori besar, yakni faktor internal dan faktor eksternal. Disamping itu, dapat juga dikelompokkan menjadi faktor fisik dan nonfisik. Dua faktor besar tersebut sangat mempengaruhi dalam keberhasilan proses pembelajaran.

Dalam tulisan kali ini, saya akan mencoba membahas tentang faktur pengaran sebagai salah satu variabel pendukung keberhasilan sebuah pembelajaran. Lebih spesifik lagi, tulisan kali ini berusaha membahas tentang model pengajaran Quantum Teaching.

Kita mungkin pernah mendengar istilah quantum learning, sebuah konsep pembelajaran dengan cara memberikan motivasi kepada siswa melalui proses ‘mengalami’. Istilah yang sangat populer dalam quantum learning adalah TANDUR (Tanamkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan). Quantum learning merubah paradigma pembelajaran lama yang teacher centered, menjadi student centered. Lebih dari itu, proses pembelajaran yang menjadikan alam sekitar sebagai media pembelajaran membuat siswa merasa bahwa belajar itu merupakan sesuatu yang menyenangkan. Tentunya konsep tersebut tidak akan dapat diterapkan jika tidak dinahkodai oleh seorang guru yang handal.  Maka sebagai kelengkapan dari quantum learning, perlu juga diketahui tentang quantum teaching. Sebuah konsep tentang bagaimana mengatur sebuah pembelajaran yang asyik dan menyenangkan, agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat tercapai.

Saya akan memulai pembahasan tentang quantum teaching dari asasnya, yakni “Bawalah Dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Quantum teaching merupakan model pembelajaran yang mengedepankan pengalaman siswa. Materi pelajaran tidak disampaikan secara datar dan lurus-lurus saja melalui metode ceramah, tetapi lebih dari itu, materi ajar harus dirasakan dan dialami oleh siswa. Sehingga tujuan akhir pembelajaran tidak hanya untuk mematangkan kemampuan intelektual siswa saja, tetapi juga meningkatkan pengalaman dan skill siswa.

Seorang guru harus memahami dunia siswa. Dengan memahami dunia siswa, guru akan mampu “membawa dunia mereka” ke dunia guru. Kenapa harus masuk ke dunia guru? Mungkin muncul pertanyaan seperti itu. Kita tahu bahwa guru dan siswa memiliki pola pikir (dunia) dan sudut pandang yang berbeda. Perbedaan ini muncul karena banyak faktor, diantaranya faktor usia dan pengalaman. Tidak jarang seorang guru merasa kesulitan memahami siswa yang dikarenakan perbedaan sudut pandang. Olehnya, dalam quantum teaching, guru harus mampu membawa dunia siswa ke dalam dunianya, agar ia merasakan, melihat dan mengalami seperti apa yang dirasakan, dilihat dan dialami siswa.

Mengajar itu sebuah seni. Ia memiliki pola dan irama yang jelas. Namun sentuhan tangan seniman yang satu dengan yang lain menghasilkan kontur dan irama yang berbeda-beda. Ibarat sebuah gitar yang digunakan mengiringi lagu Kemesraan nya bang Iwan Fals, meskipun nada dan bait lagunya sudah jelas, tetapi iramayang dihasilkan akan berbeda antara orang yang asal petik gitar dengan seniman gitar. Anda pasti bisa membayangkannya sendiri, tida usah saya ceritakan di sini (Hehehe…). Seorang guru juga begitu, ia seorang seniman pendidikan. Guru tidak boleh hanya asal petik gitar, asal mengajar atau mengajar asal-asalan, dengan alasan yang penting materi sudah tersampaikan atau yang penting sudah masuk mengajar, dan semisalnya. Guru merupakan subyek pembelajaran, yang menahkodai kapal pembelajaran agar sampai di tujuan dengan selamat. Guru yang asal mengajar akan menghasilkan siswa yang miskin pengetahuan dan pengalaman.

Kembali ke Quantum Teaching. Setelah proses memahami dunia siswa, guru kemudian mengolah materi pelajaran dan memberikannya kepada siswa sesuai dengan dunia mereka. Inilah yang dimaksud dengan “mengantarkan dunia kita ke dunia mereka”. Proses “mengantar” ini menggunakan berbagai cara yang terangkum dalam metode, teknik dan gaya mengajar guru. Metode, teknik dan gaya mengajar harus bervariasi, hal ini berguna untuk menjaga kestabilan motivasi dan suasana kelas yang kondusif. Ada satu hal yang menarik dari prinsip quantum teaching, bahwa “segalanya berbicara”.

Dalam beberapa buku tentang QT (QuantumTeaching), ‘segalanya berbicara’ diartikan bahwa semua yang ada di dalam kelas dapat digunakan untuk menyampaikan pembelajaran. Lingkungan kelas, suasana dan kondisi kelas, sarana dan prasarana, guru (beserta metode, teknik dan gaya mengajarnya), siswa dan hal lainnya di kelas dapat menyampaikan pesan pembelajaran. Bahkan gerakan tangan dan mimik wajah seorang guru juga dapat menyampaikan sebuah pesan pembelajaran. Dari sini, seorang guru tidak boleh mendominasi pembelajaran dengan cara mendominasi kelas. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengekspresikan pemikiran dan pemahamannya. Semua yang terjadi di kelas memberikan kesan yang berbeda-beda pada siswa, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi semangat belajar siswa. Olehnya, guru hendaknya berhati-hati dalam menentukan sikap, metode, teknik dan gaya mengajarnya. Sekecil apapun yang diperbuat oleh seorang guru di kelas, akan terekam dengan baik di benak siswa.

Inti tulisan ini adalah tentang bagaimana seseorang hendaknya memahami orang lain sebelum menyampaikan sebuah pesan, agar pesan tersebu dapat diterima dan dipahami dengan baik. Terkait dengan quantum teaching, guru harus memahami dunia siswa dalam sebuah pembelajaran agar tercipta suasana pembelajaran yang kondusif, yang mampu meningkatkan semangat belajar siswa, agar tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.

Ada sebuah buku yang menarik untuk dibaca, tentang quantum teaching, berjudul Quantum Teaching; Buku Pintar dan Praktis. Saya merekomendasikan buku ini sebagai bahan bacaan ringan untuk menambah kosakata quantum, tetapi saya tidak merekomendasikannya sebagai sebuah referensi penelitian sebab satu kekurangan buku tersebut, yakni tidak ada catatan kakinya. Insyaallah akan saya sempatkan bikin resensinya pada tulisan-tulisan selanjutya.

Selamat Bekerja dan Selamat berkarya. Jadilah seniman yang handal.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *