Hari ini, menurut jadwal, mestinya saya membuat tulisan tentang pendidikan. Ingin hati mengetik, tapi pikiran ini tidak mau diajak kompromi untuk sejenak mengikuti tarian jari-jari. Walhasil, apa yang saya ketik ini hanya berupa jari-jari yang menari dengan tidak dilandasi pikiran utuh. Maka jikalau ada kekurangan, itu karena penulis sendiri, bukan atas nama Bumi Cendekia Ilmu.

Sebenarnya ada yang membuat pikiran ini berkecamuk, tidak ada permasalahan serius sebenarnya, Cuma dari tadi otak ini terputar-putar pada satu kata. “tawadhu’”. Sebuah kata yang selama ini diartikan sebagai tingkat kepatuhan seseorang kepada orang lain, bisa jadi kepada orang yang lebih tua, bisa juga kepada orang tua, bisa juga kepada teman sebaya yang memiliki kelebihan atau bisa juga kepada Guru. Di sisi lain, tawadhu’ seringkali juga diartikan sebagai totalitas kepatuhan seseorang, sebuah totalitas tanpa batas yang tidak jarang mematikan daya kritis dan kreativitas seseorang. Seperti itukah sebenarnya tawadhu’?

Tawadhu’ merupakan bagian dari sufistik. Tawadhu’ merupakan perbuatan/sikap baik yang dianjurkan Nabi. Dalam sebuah riwayat, Nabi pernah ditahan oleh seorang wanita yang kurang waras (orang stress) di jalan, wanita itu mengatakan “wahai Nabi, saya ada keperluan denganmu, apa bisa saya bicara”. Nabi kemudian berhenti dan menepi, dan Nabi memberikan waktu wanita tersebut berbicara menyampaikan maksudnya. Pada riwayat yang lain, Nabi pernah berjalan dengan tangan yang digandeng oleh seorang budak di Madinah. Budak itu mengajak Nabi untuk menemaninya mengerjakan sesuatu, dan Nabi pun berangkat menemaninya. Dan dalam suatu hadits Nabi bersabda “Sesungguhnya Allah SWT menurunkan wahyu kepadaku agar kalian bersikap rendah diri, hingga tidak ada seorangpun yang merendahkan saudaranya, atau berlaku kasar/lalim satu sama lain”. HR. Muslim

Tawadhu’ dalam kamus bahasa Arab diartikan sebagai “menjauhi takabbur”.  Tawadhu’, pada dasarnya diartikan sebagai rendah hati, tidak gengsi, tidak merasa malu di hadapan manusia. Tawadhu’ juga digunakan untuk menggambarkan sebuah penghormatan atau penghargaan kepada seseorang. Akan tetapi saya belum memukan dalam hadits maupun dalam pengertian ulama’ bahwa tawadhu’ berarti kepatuhan, apalagi kepatuhan total kepada seseorang. Pengartian tawadhu’ sebagai kepatuhan total kepada manusia lain mungkin berawal dari penghormatan. Bentuk penghormatan yang berlebihan pada orang lain tersebut akhirnya melahirkan kepatuhan yang berlebihan dan mengurangi sikap krtitis dan kreativitas seseorang. Pada tahap ini, jika tawadhu’ terus dilakukan, maka akan menghasilkan kepatuhan total kepada seseorang. Dalam banyak kasus, sering terjadi seseorang yang takut berbuat sesuatu karena merasa segan kepada seseorang, takut dikira tidak patuh dan tawadhu’. Pada beberapa kasus, seseorang juga tidak mau bergerak/berbuat sesuatu karena merasa takut salah menurut seseorang. Dua kasus tersebut seringkali terjadi pada pola hubungan guru-murid, kyai-santri dan mursyid-salik. Dalam pola hubungan seperti ini, seseorang yang akan berbuat baik pun tidak berani melanjutkan perbuatannya jika belum mendapat restu dari guru/kyainya, padahal dalam al Qur’an jelas-jelas Allah SWT berfirman agar kita berlomba-lomba dalam kebaikan “fastabiqul khairat”. Kita diperintah Allah SWT agar bersegera dan berlomba-lomba dalam melakukan amal kebaikan, dan kebaikan disini tentunya diartikan sebagai amalan-amalan yang membawa manfaat kepada diri kita dan orang lain.

Apa yang dapat saya simpulkan dalam hal ini adalah bahwa kepatuhan total itu hanya kepada Allah SWT, kepada-Nya lah kita berserah diri. Tawadhu’ sebagai penghormatan dan penghargaan merupakan perbuatan baik, akan tetapi jika kemudian menghambat seorang diri untuk berbuat baik, maka itu bukanlah sebuah tawadhu’ melainkan ketakutan. Dan seharusnya, ketakutan itu hanyalah jika kita akan melakukan perbuatan salah, bukan ketika kita akan berbuat kebaikan. Sebagai penutup, sesuai firman Allah SWT dalam Al Baqarah 148, marilah kita berlomba-lomba dalam kebaikan, jangan ditahan jika hati sudah ingin berbuat baik, yakinlah bahwa bisikan hati yang menyuruh berbuat baik itu berasal dari Allah SWT., dan mudah-mudahan kita terhindar dari riya’, yakni terhindar dari rasa ingin dianggap ‘wah’ oleh seseorang atau ingin pamer amal kepada seseorang. Riya’ juga dapat diartikan sebagai melakukan perbuatan baik karena manusia, bukan karena Allah.

Ya Muqallibal Qulub… Tsabbit Qolbana ‘alaika wa ‘ala dinika wa’fu ‘anna

(wahai Dzat yang membolak balikkan hati, Tetapkanlah (kuatkanlah) hati kami kepada-Mu dan Jalan-Mu, dan ampunilah kami semua… )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *