Kota Palu memiliki banyak mutiara pendidik yang telah berjuang memerdekakan masyarakat Sulawesi Tengah dari Buta Aksara, baik Al Quran maupun latin. Para tokoh pendidikan tersebut menyebarkan pendidikan melalui berbagai cara seperti dakwah, halaqah, pesantren dan madrasah. Khusus penyebaran pendidikan melalui madrasah, terkenal seorang tokoh pendidikan di Palu yang bernama Sayyid Idrus bin Salim AlJufrie, atau yang terkenal dengan sebutan GURU TUA. Beliau salah seorang ulama Hadramai yang menyebarkan pendidikan sejak tahun 1930 melalui madrasah AlKhairaat. Guru Tua merupakan pendiri sekaligus penyebar pendidikan Islam di Sulawesi Tengah.

Kegigihan Guru Tua dalam menyebarkan pendidikan di Sulawesi Tengah dapat dilihat dari keberhasilan penyebaran madrasah. Dalam Kurun waktu 30 tahun semasa hidupnya, sudah berdiri kurang lebih 420 madrasah AlKhairaat. Sungguh sebuah prestasi yang luar biasa, di tengah-tengah intimidasi pemerintah Belanda pada saat itu, Guru Tua terus berjuang dalam bidang pendidikan demi memberantas buta huruf dan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat Sulawesi Tengah.

Ketokohan Guru Tua menarik perhatian para peneliti dari berbagai wilayah. Berbagai penelitian telah dilakukan untuk mengkaji konsep dan praktik pendidikan Guru Tua dan AlKhairaat. Diantara penelitian tersebut:

Beberapa tulisan tentang Al Khairaat:

  1. Majmu’ Qashaid Pendiri AlKhairaat, Penulis S. Idrus bin Salim AlJufrie, tulisan dalam bentuk syair-syair. Tulisan tersebut diedit oleh Sofyan Lahilote (1980). Karya ini berisi nasehat-nasehat yang ditujukan kepada murid-muridnya (abna’ Alkhairaat) tertutama yang berhubungan dengan keutamaan ilmu, belajar dan mengajar. Juga diungkapkan suka duka membina Alkhairaat sampai berkembang di berbagai pelosok, termasuk himbauan beliau kepada masyarakat agar memperhatikan persatuan dan kesatuan dalam membina lembaga-lembaga pendidikan untuk kemajuan masyarakat, bangsa dan Negara.
  2. Sofyan B. Kambay, Perguruan Islam Alkhairaat dari masa ke masa. Karya ini secara singkat menggambarkan bagaimana penerimaan masyarakat tentang kehadiran Alkhairaat di tengah-tengah mereka. Sofyan mengungkapkan juga secara singkat sejarah perkembangan Alkhairaat dan kiprahnya dalam masyarakat.
  3. Guru Tua Hidup dan Perjuangan, yang di tulis Abd. Kadir R.A. yang isi tentang petualangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri baik ketika masih berada di daerah asalnya, Hadramaut, Yaman Selatan, maupun ketika menghadapi imprealisme penjajahan Inggeris di daerah, serta sikapnya menghadapi penjajahan belanda di Palu.
  4. Islam di Tanah Kaili dari Datokarama ke Guru Tua ditulis oleh Saggaf Pettalongi dkk., antara lain menjelaskan Guru Tua di tanah Kaili dalam rangka meneruskan misi Datokarama yang dirintis mulai abad XVII.
  5. Disertasi Peranan Alkhairaat dalam perubahan sosial budaya masyarakat Kaili oleh Noor Sulaiman berisi, antara lain, peranan Alkhairaat dalam perubahan sosial budaya masyarakat Kaili sejak mulai berdirinya sampai sekarang dengan berbagai kemajuan yang telah dicapai serta keterangan yang dapat ditangkap di mana Alkhairaat telah membuat persiapan-persiapan antisipasi ke depan, baik bidang pendidikan, dakwah, dan usaha-usaha lainnya. Demikian juga buku yang ditulis Sofyan B. Kambay yang berisi tentang perguruan Alkhairaat dari tahun ke tahun, masa perintisan Alkhairaat serta hambatan dan tantangan yang diperoleh.
  6. Buku yang di tulis Norma Dg. Siame, Perjuangan Sayyid Idrus dalam membina pendidikan Islam, khususnya perguruan Islam Alkhairaat untuk membangun umat dari keterbelakangan ilmu pengetahuan terutama ilmu agama lewat lembaga perguruan Alkhairaat. Begitu juga dengan buku yang ditulis oleh Abdullah Awad Abdun yang bertalian asal usul pendiri Alkhairaat, kelebihan yang dimilikinya, silsilah dan keturunannya dari klan keluarga besar Ba’alawi, yang bersambung dengan Ali bin Abi Thalib. Buku-buku yang ditulis ini dapat menambah wawasan penulis untuk mengetahui lebih rinci profil pribadi Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, sehingga penulisan disertasi ini lebih leluasa mengungkap konsepsi pemikiran beliau tentang pendidikan Islam.
  7. Jurnal Hunafa 11, No. 2, Desember 2014, PENGELOLAAN WAKAF ALKHAIRAAT PALU SULAWESI TENGAH, (Palu, IAIN Palu Press, 2014)
  8. PerguruanAlkhairaat Dari Masa ke Masa, oleh Sofyan B. Kambay, yang menulis tentang sistem pendidikan Alkhairaat pada awal berdirinya di Kota Palu tahun 1930. Dalam buku ini, Sofyan mengemukakan bahwa kegiatan Alkhairaat yang mengutamakan dakwah dan pendidikan, maka sistem pendidikan yang dilaksanakan dengan cara belajar aktif, di mana para murid dapat belajar sendiri dan diberi kebebasan memilih pelajaran apa yang diminatinya dengan bimbingan guru. Kegiatan ini langsung ditangani oleh Sayyid Idrus bin Salim Aljufri sebagai guru dan pengasuhnya. Belajar secara kelompok juga dilakukan terutama di saat-saat tertentu. Hal ini dilakukan karena guru terbatas sedangkan murid sangat banyak, sistem ini dilaksanakan dan berjalan dengan lancar. Dalam kegiatan belajar seperti ini belum diberlakukan jadwal dan kurikulum belajar secara tertulis. Nanti, pada masa berikutnya, terutama setelah gedung madrasah berdiri, barulah diperkenalkan menulis huruf-huruf al-Quran, sistemnya secara klasik. Menurut Sofyan, dalam hasil penelitiannya, sistem pendidikan yang dianut Alkhairaat adalah perpaduan antara pondok, klasikal, dan individu yang sistem masih bersifat sangat sederhana.

Karya-karya tersebut merupakan sebagian dari sekian banyak penelitian yang mengkaji tentang Guru Tua dan AlKhairaat. Sebagian karya tersebut diterbitkan dan sebagian lagi tidak diterbitkan.

Terima Kasih Guru Tua

Semoga Allah SWT merahmatinya

Allahu yarhamhu

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *