Kajian tentang tasawuf memang mengasyikkan. Terdapat logika-logika yang berujung pada ketenangan hati. Banyak idealitas, terutama religi, ditemukan didalamnya. Dan, manfaat yang terpenting adalah recharge atau refresh otak. Muncul sebuah pencerahan, bahwa ada dunia lain dalam diri. Ada sudut dan sisi lain yang seringkali diabaikan, yakni sisi ilahiyah yang berupa manisnya interaksi dengan Tuhan.

Pengabaian aspek ilahiyah menyebabkan kegersangan batin. Pada kasus akut, menyebabkan kebekuan atau kematian hati. Efek langsung yang dapat dirasakan adalah ketidakhadiran hati dalam setiap langkah dan perbuatan. Hati, sebagai tempat nur ilahi, tidak mampu mendampingi setiap gerak dan langkah. Dampaknya, Alih-alih sebagai kontrol diri, hati terkadang menjadi musuh intern. Ia menjadi momok yang harus dimatikan ketika berhadapan dengan logika akal. Pertimbangan hati dianggap sesuatu yang irasional. Pernahkah anda berada di suatu tempat atau kondisi, bersamaan dengan itu pula hati dan pikiran anda? Anda sedang mengobrol dengan teman, apakah hati dan pikiran anda juga berinteraksi dengan teman tersebut? Jawaban atas dua pertanyaan tersebut dapat menjadi standar penilaian sejauhmana kegersangan hati seseorang. Lho, apa hubungannya? Coba sekarang anda ubah pertanyaannya, pernahkah anda berkomunikasi dengan Allah beserta hati dan pikiran anda?

Kegersangan hati merupakan efek samping dari kesalahan dalam memahami kehidupan duniawi. Dunia yang kecil ini seringkali dijejali dengan berbagai keinginan dan mimpi. Seringkali keinginan tersebut diberi embel-embel dengan nama kebutuhan, sehingga akal akan langsung menyetujuinya. Seringkali juga kebutuhan diberi label ‘mendesak’, sehingga akal akan mencari jalan pintas untuk segera memenuhinya. Akhirnya, orang sibuk memikirkan keinginannya. Orang sibuk memikirkan kebutuhannya sendiri. “Kenapa harus memberi kepada orang lain, sedangkan kita sendiri masih membutuhkannya”. Istilah itu menjadi popular, dan banyak orang menjadikannya sebagai pandangan hidup. Sungguh, sebuah konsep yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai tasawuf. Bukankan harta kita akan semakin bertambah jika disedekahkan? Bukankah Allah akan melapangkan urusan kita jika kita mempermudah urusan orang lain?

Sampai disini, saya teringat dengan lagu Iwan Fals, ‘Keinginan adalah sumber penderitaan’. Saya tidak tahu apa latar belakang Iwan Fals menciptakan lagu ini. Apakah dia seorang sufi? Ataukah dia sudah berada pada maqam salik? ‘Keinginan adalah sumber penderitaan. Tempatnya di dalam pikiran…’ demikian penggalan lagu Iwan Fals, dan sepertinya ada benarnya. Beragam keinginan kita selalu memenuhsesakkan pikiran. Klimaksnya, lebih banyak keinginan yang tidak terlaksana daripada yang sudah terpenuhi. Harapan tidak sesuai kenyataan. Kata orang bule, das solen dan das sein gak pernah ketemu. Maka, muncullah berbagai permasalahan. Banyak orang merasa dunia ini sempit karena otaknya dipenuhi dengan permasalahan yang berasal dari keinginan yang tidak terlaksana. Logika selalu dipaksa mencari cara untuk memenuhi keinginan, padahal tenaga yang dimiliki tidak cukup. Seringkali seseorang menginginkan sebuah barang dengan harga 10rb, padahal uangnya hanya 5rb. Dengan berbagai argumentasi (barangnya lebih baik, tidak bikin malu, enak dipandang, membawa wibawa dan hoki, unik dan langka, kesempatan hanya sekali, dan lain-lain), akhirnya otak memaksa raga mencari kekurangan uang tersebut. Meskipun harus kerja lembur, mengurangi waktu bersama anak-anak, istri dan keluarga, mengurangi interaksi dengan tetangga dan teman (apalagi interaksi dengan Tuhan), kerja keras banting tulang, dan semisalnya akan dilakukan. Lha, itu kalo satu keinginan. Kalo kita punya sepuluh keinginan? Tentu sepuluh kali lipat juga banting tulangnya (untung tulang kita bukan buatan Maspion, kalo tidak pasti sudah remuk dari dulu).

Kegersangan hati merupakan penyakit orang-orang modern. Banyaknya pikiran menjadikan sebagian orang kehilangan arah dan tujuan hidup. Kehidupan ini hanyalah sebuah rutinitas. Rentetan aktivitas yang harus dijalani setiap hari secara berulang-ulang. Hidup menjadi tanpa makna. Manusia menjadi seperti robot, yang harus menjalankan program rutin dalam hidupnya. Manusia menjadi makhluk automaton, kata Fromm. Bangun pagi hari, persiapan ke kantor, melaksanakan pekerjaan rutin, pulang kerja malam, istirahat. Manusia menjadi sebuah robot, untuk memenuhi keinginannya sendiri. Lantas, kapan waktu kita berinteraksi dengan sisi lain diri kita? Kapan kita bercakap-cakap dengan jiwa kita? Kapan kita memberi makan hati dan jiwa kita? Hati yang lama tidak diberi makan, tentulah akan melemah kekuatannya. Ia tidak akan mampu menjadi pengontrol akal dan nafsu.

Buah dari kekuatan logika selain kegersangan hati adalah materialism. Muncul standar baru dalam gaya hidup. Penilaian keberhasilan dan kesuksesan hanya berdasarkan pada materi semata. Semakin besar materi yang diperoleh, semakin seseorang dikatakan sukses. Kesuksesan haruslah sesuatu yang tampak, karena logika hanya mampu mencerna sesuatu yang riil. Akhirnya manusia berlomba-lomba mengumpulkan dan menyimpan materi sebanyak-banyaknya. Dan, dengan menggunakan dalil matematika, mereka menafsirkan kehidupan ini. Bahwa 1 + 1 = 2, dan 2 – 1 = 1 merupakan kebenaran yang berlaku tidak hanya pada ilmu eksakta, melainkan juga berlaku pada kehidupan ini. Maka tidak heran jika motivasi dasar manusia dalam bekerja hanya untuk menambah dan menambah materi saja. Tidak ada keingingan untuk berbagi atau bersedekah, karena bersedekah dalam hitungan matematika sama dengan mengurangi. Dan, jika seseorang rajin bersedekah maka materinya akan semakin berkurang. Sungguh, sebuah metode yang salah dalam memahami kehidupan. Karena hidup ini bukanlah sesuatu yang konstan, ia bukanlah ilmu eksakta, maka alat ukurnya pun seharusnya bukan menggunakan ilmu eksak.

Tasawuf memberikan alternative dalam memahami hidup. Bahwa manusia hendaknya dapat mensyukuri apa yang telah ia miliki. Bersyukur bukan berarti pasrah dan menerima apa adanya. Bersyukur merupakan salah satu tahap yang harus dilewati dalam setiap jenjang kenikmatan. Ibarat menaiki anak tangga, pada saat kita berhenti sejenak sebelum menaiki anak tangga berikutnya, disitulah letaknya syukur. Nikmati tiap anak tangga yang ada. Bahwa kita hidup memang harus memiliki cita-cita, tetapi harus diingat bahwa untuk mencapai cita-cita tersebut harus melalui langkah demi langkah. Jika kita memahami setiap langkah, menghayati dan mensyukuri setiap anak tangga, maka kita tidak akan menjadi gegabah dan kita akan menjadi pribadi yang kuat. Bukan diri kita yang dikendalikan cita-cita atau materi, tapi diri kitalah yang mengendalikan mereka. Bersyukur juga diartikan dengan berbagi. Berbagi dengan sesama, dan berbagi dengan alam. Berbagi rasa, kata dan harta. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *