Anak bukanlah orang dewasa dalam ukuran mini. Mereka tetaplah anak, dengan segala kekurangan dan keterbatasannya. –Johan Amos Comenius.

Apakah anak anda Autis? Saya yakin reflek anda akan mengatakan ‘tidak’. Setiap orang pasti tidak mau anaknya disebut autis. Mengapa? Karena istilah autis selalu dikonotasikan dengan keterbelakangan mental, keterbatasan kemampuan fisik dan linguistik dalam merespon berbagai stimulus dari luar diri. Gambaran yang gamblang dapat kita lihat pada film Bruce Willis yang berjudul ‘Mercury Rising’. Dalam film itu Bruce Willis menyelamatkan seorang anak yang menderita autis, dan berusaha beradaptasi dengannya. Apakah  anak autis seperti itu? Jawabannya ‘ya’, tetapi tidak semua anak autis sama seperti yang digambarkan dalam film Mercury Rising.

Istilah autism berasal dari kata autos (bahasa Yunani) yang berarti self atau diri-sendiri. Penyandang autis cenderung menikmati kegiatan dengan dirinya sendiri. Mereka selalu melakukan auto-imagination, auto-activity, auto-interest, dan semisalnya. Auto dalam term ini diartikan sebagai self, bukan automatic. Maka tidak salah jika ada yang beranggapan bahwa orang autis adalah orang yang memiliki dunia sendiri, yang asyik beraktifitas dengan pikiran dan perasaan sendiri, tanpa berminat bergaul atau tertarik pada individu lain. Mereka memiliki dunia dalam dunia.

Saya selalu bertanya-tanya, apakah kecenderungan seorang anak yang selalu ingin menyendiri dapat dikatakan sebagai gejala autis? Apakah anak yang lebih memilih bermain game di laptop atau computer daripada bergaul dengan teman-teman sebayanya juga termasuk golongan autis? Apakah anak yang lebih memilih bermain HP daripada ngobrol sama orang tua, nenek atau tantenya juga termasuk dalam kategori autis?

Autism ternyata memiliki spektrum yang luas. Dalam bahasa buku, termasuk dalam spectrum autis seperti: sindrom asperger, ADD (attention deficit disorder), ADHD (attention deficit and hyperactivity disorder), atau gejala retardasi mental lainnya. Secara garis besar, autis mencakup keterbatasan kemampuan anak dalam bidang sosialisasi, komunikasi, emosionalitas, perilaku repetitive dan gangguan persepsi. Dan, gejala-gejala autism biasanya muncul dan dapat dilihat jelas pada anak usia 18 – 36 bulan. Biasanya, anak-anak penderita autis mengalami keterlambatan perkembangan dalam beberapa hal tersebut.

Lantas, bagaimana dengan anak-anak yang memiliki dunia sendiri dengan bermain laptop, HP, tablet atau mainan lainnya? Tentu kita tidak bisa langsung mengatakannya sebagai penderita autis tanpa didukung oleh ciri-ciri lainnya, seperti: si anak marah ketika ada temannya yang mendekat atau ingin bergabung; dia memilih lari ke tempat yang sepi, kemudian bermain sendiri dan mengabaikan temannya; dia mengomel-ngomel (dengan kata yang diulang-ulang), menggerutu dengan bahasa aneh, atau dalam beberapa kasus ia memukul-mukul dirinya sebagai luapan kekesalan; dan anak autis biasanya selalu mempertahankan satu minat, misalnya kalo anak suka bermain mobil warna merah, ia hanya akan bermain mobil itu terus-terusan dan tidak mau ganti mainan atau mobil lain. (dan masih banyak definisi lain, seperti yang ditetapkan oleh American Psychiatric Assosiasion).

Anugerah atau bencana?

Seorang anak, dengan berbagai kelebihan dan kekurangannya, adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa. Kita harus yakin bahwa apa yang diberikan Tuhan kepada kita adalah yang terbaik untuk kita. Autis bukanlah big problem, karena autism is treatable. Dengan penanganan tepat yang dilakukan sejak dini, autis dapat diobati. Saya tertarik dengan ungkapan Rhenald Kasali, bahwa “pada diri setiap manusia selalu terdapat seekor gajah besar dengan manusia sebagai penunggangnya. Gajah dan penunggangnya itu ada dalam jiwa setiap manusia. Penunggang itu adalah alam sadar, kendali yang kita miliki. Sedangkan gajah itu adalah gerak bebas motorik yang terjadi secara alami, dan bagi manusia kanak kan akan terasa berat untuk mengendalikannya. Bagi anak autis, gajah itu begitu liar dan besar, sedangkan penunggangnya terlalu kecil dan sangat tidak berpengalaman. Sedangkan bagi anak-anak yang lain, gajahnya begitu kecil dan jinak sehingga mudah dikendalikan. Kalau dipelihara sejak kecil, gajah-gajah itu menjadi dewasa yang penurut. Namun bagaimana bila anda diwariskan gajah yang diambil dari habitatnya dan ia sudah besar? Anda pun kewalahan menjinakkannya. Berkeringat, meletihkan, dan tak jarang putus asa”.

Maka, sebelum autism itu menjadi semakin akut, dan menjadi gajah besar yang semakin sulit dikendalikan, tidak ada salahnya jika kita mendeteksi buah hati kita sejak dini. Pendeteksian sejak dini akan memungkinkan kita melakukan treatmen sejak dini pula. Untuk menambah info tentang autism, saya kira tidak ada salahnya jika membaca buku karangan kak Seto dengan judul Autism is Treatable; 3 Pekan Menuju Keberhasilan Terapi. Bukannya saya promosi, tapi kandungannya cukup informatif. Setidaknya kita dapat mendeteksi keadaan putra putri kita sejak dini. Buku ini tidak terlalu tebal, hanya 184 halaman. Bahasa yang digunakan, menurut saya, sangat lugas dan sederhana, sehingga pembaca dapat hanya dengan sekali duduk melahapnya.  Sebuah buku yang cocok menemani waktu ngopi kita. J

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *