Tadi malam begadang dengan salah satu teman pengungsi. Kami bicara mulai A-Z berbagai permasalahan yang dihadapi dan mungkin dihadapi oleh kita, masyarakat pasigala. Saya sangat respek pada analisanya, tajam dan futuristik. Sebuah prediksi yang mungkin saja akan terjadi di sekitar kita, dan seandainya terjadi betul, maka Pasigala diambang bencana II pasca gempa 28/9/2018.

Ia mengatakan, bahwa selama ini pemerintah dan masyarakat hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan menengah. Logistik itu kebutuhan jangka pendek, sembako dan pakaian itu juga kebutuhan jangka pendek. Huntara itu kebutuhan jangka menengah, begitu juga dengan peralatan masak dan supplay air bersih. Pemerintah sudah seharusnya memikirkan kebutuhan jangka panjang pengungsi sebagai rakyatnya.

saya pun bertanya, “jadi menurut komiu apa sebenarnya kebutuhan jangka panjang pengungsi? Apakah yang selama ini diberikan pemerintah dan masyarakat itu sia-sia?”

dia langsung menyahut:” Tidak..! bukan maksud saya bilang begitu. Kami sangat berterima kasih dengan berbagai bantuan yang sudah kami terima, kepada pemerintah kami ucapkan terima kasih, begitu juga kepada semua relawan dan dermawan dimanapun mereka berada yang telah ikut berpartisipasi. Kami sangat berterima kasih dan kami selalu berdoa kepada Allah SWT agar mereka mendapat pahala yang berlimpah dan mendapat ganti yang berlipat ganda dari Allah atas apa yang telah mereka sedekahkan”. Teman saya berhenti bicara, ia menunduk.

“Mereka relawan itu pahlawan kami… begitu juga mereka yang telah membantu kami”.

Ia terdiam, diskusi terhenti beberapa detik. Ia ambil gelasnya dan meminum kopi sebelum lanjut cerita. Sempat dia bakar dulu rokok Potenza yang ada disampingku.

“Masyarakat pengungsian itu terbagi menjadi beberapa kelompok”, lanjutnya.

“Ada pengungsi  yang kehilangan rumahnya atau masih ada rumahnya tapi sudah tidak layak huni lagi, tapi mereka tidak kehilangan keluarga dan pekerjaannya. Ada juga pengungsi yang kehilangan rumah dan sebagian anggota keluarga, tetapi dia masih memiliki kebun dan ladang untuk dikerja. Ada juga pengungsi yang kehilangan tempat tinggal, hilang juga keluarganya dan sodara-sodaranya ditambah lagi hilang juga pekerjaannya, hilang kebun dan ladangnya. Dan jumlah pengungsi ketiga ini juga banyak, ratusan bahkan ribuan orang. Sesuatu yang saya takutkan nanti itu, mudah-mudahan tidak terjadi, adalah munculnya chaos dalam masyarakat”.

“Tunggu, maksudnya kerusuhan sosial atau konflik sosial?” saya potong pembicaraan teman itu. Dalam hatiku, ini pengungsi sepertinya sangat terpelajar, dia gunakan bahasa chaos dalam penjelasannya, sebuah istilah yang sangat tidak membumi bagiku. “apa yang membuat komiu bicara seperti itu?” lanjutku.

“Tidak hanya kerusuhan dan konflik sosial, chaos itu lebih pada ketidaknyamanan sosial akibat ketidakamanan dalam lingkungan, yang disebabkan tidak terpenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Saya tidak bicara sembarang, apa yang saya prediksikan ini berdasarkan fenomena yang ada. Para pengungsi yang memiliki tanggunan di bank, di leasing dan tanggungan hutang lainnya, mereka mungkin bisa aman dalam 6 bulan pasca gempa. Adanya kebijakan penangguhan pembayaran  yang dikeluarkan bank dan leasing memberikan rasa aman paling tidak selama 6 bulan bagi para pengungsi. Tapi bagimana dengan bulan ketujuh dan seterusnya? Para korban yang masih memiliki pekerjaan mungkin bisa mengatasi hal itu meskipun dengan terseok-seok. Mereka masih butuh cari makan, mereka butuh membangun ulang rumah, mereka masih butuh membayar listrik, kebutuhan sekolah anak-anaknya, dan lain-lain, di sisi lain dia harus membayar cicilan bank. Sedangkan yang punya pekerjaan saja mereka terseok-seok, apalagi para pengungsi yang tidak memiliki pekerjaan? Coba komiu pikir, darimana mereka akan mendapatkan uang untuk mencukupi kebutuhan mereka sedangkan kebun tidak ada, ladang sudah dihanyutkan likuifaksi, sawah sudah kebanjiran lumpur pasir dan tanah. Mereka bisa saja membuka lahan baru, tapi kalo peralatan tidak ada, apa mereka mau tebang itu pohon di hutan pake gigi?”

Beh… langsung meledak tawaku badengar de pe carita. “mungkin kita perlu bantuan woody woodpecker untuk menebang pohon” sahutku dibarengi dengan tawa kami berdua.

“itulah…” dia sambung lagi bicara. “Kalo pemerintah tidak tanggap dan tidak memikirkan kebutuhan jangka panjang pengungsi, saya takut terjadi chaos di Pasigala. Saat ini saja, dari sejak sebelum gempa, sudah banyak kejadian penjambretan, pembegalan, pencurian, perampokan. Saya anggap itu adalah bagian kecil dari model sekelompok orang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saya yakin mereka itu sebenarnya orang-orang bingung yang berusaha memenuhi kebutuhannya secara instan. Coba bayangkan seandainya keadaan yang sama itu terjadi sama komiu. Keadaan itu juga yang akan terjadi pada ribuan pengungsi jika pemerintah tidak bergerak untuk membuka lapangan pekerjaan. Chaos selalu muncul ketika orang sudah bingung, kalap dan stress akibat kebutuhannya tidak terpenuhi. Coba komiu pikir, saya batanya komiu ini. Apa yang komiu lakukan jika anak merengek minta makan, sementara tidak ada uang di tangan? Anak-anak sakit menangis dan merengek sementara komiu tidak ada pekerjaan? Apa kira-kira yang akan komiu lakukan? Kalo satu hari merengek, mungkin komiu bisa bilang ‘sabar nak..’ nah kalo itu terjadi setiap hari? Manusia kan tidak hidup Cuma sehari? Ini sudah yang saya takutkan akan menjadi penyebab chaos”

Dia berhenti, menatap jauh ke pegunungan. Aku tahu itu tatapan kosong. Aku pun terdiam, terpaku lesu menatap bumi, sesekali tanganku bakorek bumi, mencoba mencari barangkali ada jalan keluar  L

“Orang tua mungkin bisa bersabar dengan kondisi lapar, tapi bagaimana dengan anak-anak?” lanjutnya. “dan ini memang tugas berat, dibutuhkan banyak pihak yang berperan. Orang-orang kaya di Palu sudah waktunya memikirkan nasib saudara-saudaranya di pengungsian, tidak hanya tentang logistik tetapi juga tentang pekerjaan mereka. Untuk saat-saat ini, seharusnya tidak ada pihak-pihak yang mencari keuntungan pribadi, orang kaya jangan pernah berpikir cara untuk menambah kekayaannya saja, pejabat jangan hanya memikirkan jabatan dan karirnya saja, karena yakin saja, kalo nanti terjadi chaos hilang semua nanti dorang pe kekayaan, karir, jabatan itu. Hilang semua nanti harta benda mereka itu, dan itulah bencana II yang saya prediksikan tadi.”

“Wah… betul juga itu” aku hanya bisa mengangguk-angguk setuju.

Aku terdiam, mencoba menganalisa setiap kata yang diucapkan teman tadi. Diskusi pun terhenti, aku lihat dia pigi ke semak-semak di belakang tenda, sepertinya kencing dia. Dan pikiranku pun masih berputar, menerawang menjelajah angkasa, berusaha mencari ide buat memecahkan permasalahan yang nanti akan datang yang akan dihadapi para pengungsi. Dalam kebingunanku itu, aku pun membuat tulisan  ini. Berharap ada pihak-pihak yang mau membantu menyelesaikan permasalahan para pengungsi.

 

 

Petobo, 30 Nopember 2018

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *