Kamp Loli

Hari ini ketiga kalinya berkunjung ke kamp pengungsian Loli. Aktivitas di pengungsian tampak seperti biasanya. Anak-anak kecil berlarian kesana kemari, berteriak dan bermain bersama teman-temannya, ibu-ibu sibuk membersihkan tenda, beberapa orang ibu-ibu kelihatan sedang asyik mengelus elus wajan, sesekali dia gosok wajannya dengan tanah. yah… mereka sedang membersihkan alat masak. Sebagian besar pengungsi di Loli sudah mendapatkan alat-alat masak. Panci, wajan, piring, sendok, gelas dan belanga sudah mereka dapatkan. Hanya saja kompor belum didapatkan sebagian mereka.

Di bagian lain tempat pengungsian, terlihat para lelaki sedang mengerumuni sebuah tiang. Sambil sesekali bergurau, saya lihat mereka mengangkat tiang besar itu. Ternyata itu tiang listrik yang terdapat lampu diatasnya.

Nongkrong di Pengungsian

Tadi malam begadang dengan salah satu teman pengungsi. Kami bicara mulai A-Z berbagai permasalahan yang dihadapi dan mungkin dihadapi oleh kita, masyarakat pasigala. Saya sangat respek pada analisanya, tajam dan futuristik. Sebuah prediksi yang mungkin saja akan terjadi di sekitar kita, dan seandainya terjadi betul, maka Pasigala diambang bencana II pasca gempa 28/9/2018.

Ia mengatakan, bahwa selama ini pemerintah dan masyarakat hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan menengah. Logistik itu kebutuhan jangka pendek, sembako dan pakaian itu juga kebutuhan jangka pendek. Huntara itu kebutuhan jangka menengah, begitu juga dengan peralatan masak dan supplay air bersih. Pemerintah sudah seharusnya memikirkan kebutuhan jangka panjang pengungsi sebagai rakyatnya.

(lebih…)

Desa Bangga, pasca Gempa 7,4 SR di Palu

Desa Bangga merupakan salah satu desa di wilayah kabupaten Sigi. Gempa 7,4 SR yang menggoncang Palu pada 28 September 2018, memberikan efek samping pada desa Bangga. Mereka tidak hanya merasakan dahsyatnya gempa, akan tetapi juga bencana lain yang tidak kalah besarnya daripada gempa. Desa Bangga tersapu dan terendam lumpur yang mengandung material pasir, tanah dan air.

lumpur ini ditengarai masyarakat berasal dari beberapa gunung yang mengalami erosi tanah dan perubahan struktur tanah akibat gempa. Gempa 7,4 sr itu meretakkan tanah pegunungan sehingga gunung mengeluarkan air yang bercampur dengan material pasir. Arus air yang berasal dari pegununungan membawa serta berbagai material yang dilewatinya seperti pepohonan dan tanah. Akibatnya, ratusan warga Bangga tidak dapat menempati rumah mereka karena tergenang air lumpur pasir. Mereka tinggal di tenda-tenda pengungsian di dataran yang lebih tinggi untuk menghindari arus air yang sampai saat ini masih mengalir di desa Bangga. Air lumpur tersebut merendam berbagai material yang ada di atas tanah, termasuk pakaian, makanan dan kendaraan masyarakat. (lebih…)