Nongkrong di Pengungsian

Tadi malam begadang dengan salah satu teman pengungsi. Kami bicara mulai A-Z berbagai permasalahan yang dihadapi dan mungkin dihadapi oleh kita, masyarakat pasigala. Saya sangat respek pada analisanya, tajam dan futuristik. Sebuah prediksi yang mungkin saja akan terjadi di sekitar kita, dan seandainya terjadi betul, maka Pasigala diambang bencana II pasca gempa 28/9/2018.

Ia mengatakan, bahwa selama ini pemerintah dan masyarakat hanya fokus pada pemenuhan kebutuhan jangka pendek dan menengah. Logistik itu kebutuhan jangka pendek, sembako dan pakaian itu juga kebutuhan jangka pendek. Huntara itu kebutuhan jangka menengah, begitu juga dengan peralatan masak dan supplay air bersih. Pemerintah sudah seharusnya memikirkan kebutuhan jangka panjang pengungsi sebagai rakyatnya.

(lebih…)

Kamp Pengungsian Loli

  • Penyerahan Bantuan

Beberapa hari yang lalu tim kecil Bumi Cendekia Ilmu berangkat ke Desa Loli untuk menyalurkan bantuan. Bantuan tersebut merupakan hasil penggalangan dari para donatur di berbagai tempat. Bantuan yang telah didistribusikan berupa pakaian layak pakai, sembako dan dana tunai. Tim kecil kami disambut dengan gembira oleh warga pengungsian di Desa Loli. Meskipun jumlah bantuan tidak mencukupi untuk semua pengungsi, namun distribusi bantuan dapat dilaksanakan dengan baik dan tanpa keributan.

Desa Loli merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Donggala yang terdampak parah pasca bencana 28 September 2018. Gempa dengan skala 7,4 yang mengguncang Palu menyebabkan gelombang tsunami dahsyat yang memporakporandakan desa Loli dan sekitarnya. 95% rumah penduduk rata dengan tanah, hancur diterjang tsunami. hanya Masjid dan tiga rumah di sebelah masjid yang selamat dari amukan tsunami, selebihnya habis terseret ombak. (lebih…)

Pasigalaku, Ayo bangkit!

Bencana di Palu menyisakan berjuta kisah yang beraneka warna. Sungguh, sebuah pembelajaran yang nyata diberikan Tuhan kepada kita semua. Dan saya bersaksi, bahwa tidak ada pelajaran yang lebih berharga daripada pelajaran yang diberikan langsung oleh Tuhan kepada kita. Tentnunya, pelajaran tentang kemanusiaan dan pelajaran tentang bagaimana menjadi manusia.

Letak bencana yang sporadis, terjadi secara massif dalam kurun waktu yang singkat menelan  ribuan korban jiwa yang dipilih berdasarkan perhitungan Tuhan dan tidak mampu djangkau oleh kecanggihan otak manusia saat ini. Sebuah pertanyaan yang sering muncul, apa sebenarnya maksud Tuhan dengan semua ini? Mengapa bencana terjadi tidak merata? Mengapa harus saya yang jadi korban, sementara orang di sebelah yang jarak rumahnya satu meter tidak terdampak? Dan banyak pertanyaan lain sebagai bentuk protes diri kita. Sebagian orang menerima kenyataan dengan lapang dada, sebagian lagi mencari kambing hitam sebab asal muasal terjadinya bencana. Dan saya kira itu wajar, sebab dalam kondisi bencana setiap orang membutuhkan rasa aman dan ketenangan. Ada sebagian orang yang merasa tenang dihibur dengan kata-kata baik/positif, tetapi ada juga sebagian orang yang merasa tenang setelah dia mengumpat, memaki atau menyalahkan orang lain. Everyone is wrong but me, itu adalah bentuk self defense yang paling efektif dalam psikoanalisis.

(lebih…)

Anak Raja dan Tupai

Alkisah, terdapat sebuah negeri yang diperintah oleh seorang raja yang terkenal arif dan bijaksana. Raja itu memiliki hewan peliharaan yang sangat ia sukai, seekor kucing dan tupai. Raja tersebut dikaruniai sepasang anak, laki-laki dan perempuan, yang sangat ia sayangi. Sebagai bukti rasa sayang dan sukanya, ia selalu menggunakan waktu senggangnya untuk bermain dengan anak-anaknya, termasuk juga dengan kucing dan tupainya.

Suatu ketika sang raja, ditemani beberapa pengawalnya, berjalan-jalan keliling kota. Dengan menggunakan batik, ia menyamar sebagai rakyat biasa. Begitu juga keenam pengawalnya, sebagian berpakaian batik dan sisanya ber-kaos oblong. Tidak nampak sedikitpun tanda-tanda anggota kerajaan pada diri mereka. Dan, waktupun berjalan.

(lebih…)